
Oleh : Susi Suhartinah, S.Pd
Depok (SMPN 23 Depok) – Dalam rangka persiapan menyambut tahun ajaran baru 2024/2025, SMP Negeri 23 Depok terus berbenah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan mengadakan workshop penguatan kompetensi guru melalui refleksi diri dan model pembelajaran yang terintegrasi literasi dan numerasi pada kurikulum merdeka dalam menyikapi desain kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Kegiatan workshop berlangsung selama dua hari, yaitu hari Senin dan Selasa (8-9/7/2024) di Aula SMP Negeri 23 Depok.
Di hari pertama, workshop dimulai dengan sambutan dari Kepala SMP Negeri 23 Depok, Ibu Sukmawaty Zulkifli, M.Pd. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan kegiatan workshop oleh Kasi Kurikulum dan penilaian SMP Kota Depok, Bapak Muhammad Yusuf, M.Pd. Saat membuka kegiatan, Pak Yusuf menyampaikan beberapa hal, di antaranya tentang visi misi kota Depok, Program Kerja Wali Kota Depok, Rapor Pendidikan dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. “Dalam projek penguatan profil pelajar pancasila yang diutamakan adalah proses, bukan produk. Jadi tolak ukur keberhasilan suatu projek tidak dilihat dari produk saja, melainkan saat proses projek berlangsung yang diharapkan dapat memunculkan karakter siswa yang sesuai dengan profil pelajar pancasila” ujar Pak Yusuf.
Sesuai dengan tema workshop tentang penguatan kompetensi guru melalui reflkesi diri, kami menghadirkan narasumber untuk menyampaikan materi tersebut, yaitu Ibu Siti Yulaikhah, M.Pd yang merupakan pengawas pendamping SMP Negeri 23 Depok. Adapun materi yang dibawakan yaitu pengertian refleksi, manfaat refleksi, jenis-jenis refleksi, metode refleksi dan strategi refleksi. Beliau menyampaikan pentingnya refleksi diri bagi guru karena dapat mengetahui sejauh mana kegiatan pembelajaran berlangsung sesuai dengan rencana dan guru dapat terus melakukan upaya perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Bapak dan Ibu guru peserta workshop juga diajak untuk mengisi refleksi dengan menggunakan media digital classpoint. Lalu diberikan tugas kelompok sesuai dengan rumpun mata pelajaran untuk membuat refleksi dari pembelajaran yang telah dilaksanakan di kelas dengan memanfaatkan berbagai media digital (canva, classpoint, kahoot, slido, quizizz) dan menggunakan salah satu metode refleksi yaitu F4 (fact, feeling, finding, future). Kemudian mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
Kegiatan workshop diselingi dengan ice breaking yang dipandu oleh Pak Husni Thamrin, S.Pd.I. Lalu dilanjutkan dengan membuat modul ajar projek penguatan profil pelajar pancasila untuk kelas 7, 8, dan 9 terdiri dari delapan tema projek yang dipandu oleh wakasek bidang kurikulum SMPN 23 Depok, Ibu Suci Wulandari M., S.S. Bapak Ibu guru secara berkelompok membuat rencana projek yang akan dilaksanakan serta alur kegiatannya dalam setiap pertemuan.
Kegiatan workshop dilanjutkan pada hari kedua membahas tentang Model Pembelajaran yang Terintegrasi Literasi dan Numerasi pada Kurikulum Merdeka dengan narasumber Ibu Dra.Tati Setiawati M, M.Pd.
Adapun materi yang disampaikan di antaranya mengenai model pembelajaran PBL (Problem Based Learning), PJBL (Project Based Learning) dan Cooperative Learning. Bu Tuti menyampaikan materi dengan pendekatan yang sangat menarik, bapak dan ibu guru dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian berdiskusi mengenai penerapan model pembelajaran, lalu mempresentasikan hasil diskusi yang telah dilaksanakan. Setiap guru juga diberikan tugas untuk membuat kegiatan inti pembelajaran dengan menggunakan salah satu model pembelajaran.
Pemaparan materi tidak hanya sampai disitu saja, karena dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab mengenai literasi dan numerasi. Lalu diberikan penguatan mengenai persoalan pemahaman literasi dan numerasi. “Literasi dan numerasi selalu terintegrasi, numerasi bukan matematika dan literasi bukan membaca. Tujuan akhir literasi numerasi adalah kemampuan berfikir kritis” Ujar Bu Tuti.
Sesuai dengan yang disampaikan oleh Bu Tuti bahwa literasi dan numerasi tidak berdiri sendiri melainkan saling berintegrasi juga dengan model pembelajaran. Dengan adanya integrasi model pembelajaran PBL, PJBL, literasi dan numerasi diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang komprehensif dan bermakna bagi siswa.
Setelah semua kegiatan selesai, workshop pun ditutup oleh MC dengan mengucap hamdalah “Alhamdulillah hirabbil alamin”. Semoga kegiatan workshop dengan pemaparan materi dan praktik selama dua hari ini dapat menambah ilmu bagi bapak Ibu guru serta dapat mengimplementasikannya dalam pembelajaran di sekolah guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatnya kompetensi guru.




