TRANSFORMASI SEKOLAH AMAN DAN NYAMAN

Oleh : Sukmawaty Zulkifli, S.Pd, M.Pd
UPTD SMP Negeri 23 Depok adalah sekolah yang berada di ujung timur kota Depok berbatasan dengan Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Remaja di area pinggiran memiliki faktor risiko yang lebih tinggi pada permasalahan perilaku, hal ini disebabkan oleh urbanisasi yang demikian cepat sehingga menyebabkan ketimpangan sosial dan ekonomi antar wilayah. Remaja saat ini sangat aktif dalam bersosial media. Media sosial sangat bermanfaat, namun tidak dapat dipungkiri pengaruh media sosial dengan konten negatif berdampak besar bagi perilaku siswa. Hal ini memicu penyimpangan perilaku misalnya tawuran, perilaku melanggar norma atau pornografi dan perundungan.
Menurut penelusuran, ditemukan fakta bahwa siswa melakukan tawuran demi konten untuk menaikkan rating sosial media. Pada tahun pelajaran 2023/2024, berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 38 kasus perilaku siswa yang menyimpang, diantaranya keterlibatan tawuran atau kekerasan, perilaku melanggar norma atau pornografi, dan perundungan. Berdasarkan situasi tersebut, selaku kepala sekolah menginisiasi program “Patin Berkelas” atau Rapat Rutin Bersama Kepala Sekolah, Kesiswaan, guru Bimbingan Konseling, Wali kelas, dan Humas yang dilaksanakan secara setiap bulan.
Tantangan yang dihadapi adalah tahap menumbuhkan persepsi yang sama dan menumbuhkan komitmen guru, selain itu pengadministrasian yakni catatan terkait profil siswa, oleh sebab itu diperlukan media berbasis teknologi yang dapat diakses oleh berbagai pihak terkait namun dapat terjamin kerahasiaannya. Tantangan terbesar adalah menjadikan kegiatan ini sebagai kebutuhan bagi semua pihak yang terlibat.
Pada pertemuan perdana Patin Berkelas ini, kepala sekolah memaparkan tujuan, sasaran dan waktu pelaksanaan program. Mengubah pola pikir guru terkait dengan perilaku menyimpang siswa sesuai teori kebutuhan dasar manusia menurut William Glasser yakni bertahan hidup, kasih sayang dan penerimaan, penguasaan, kebebasan, dan kesenangan, pada dasarnya tidak ada anak yang nakal namun mereka belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, itulah yang menyebabkan terjadinya perilaku menyimpang pada siswa..
Langkah selanjutnya adalah meminta wali kelas melaksanakan penelusuran profil siswa berdasarkan biodata dan wawancara individu. Hasil penelusuran tersebut dituangkan dalam aplikasi berbasis google sheet dimana semua pihak yang berkepentingan seperti kepala sekolah, kesiswaan, BK dan wali kelas dapat memperoleh informasi profil siswa. Pada pertemuan perdana tersebut, kepala sekolah meminta wali kelas dan guru BK mengintegrasikan hasil pertemuan dituangkan pada profil siswa.
Fokus utama setiap pertemuan Patin Berkelas adalah upaya preventif perilaku menyimpang siswa. Pertemuan ini dilakukan rutin sebulan sekali. Pada pertemuan tersebut, didahului oleh paparan dari setiap wali kelas terkait kondisi dan keadaan siswa yang ada di kelasnya yang dikuatkan oleh paparan guru BK. Apabila terjadi kondisi dimana dibutuhkan pemecahan masalah, maka kepala sekolah memimpin diskusi untuk bersama-sama mencari solusi terhadap masalah tersebut. Selanjutnya, berdasarkan hasil keputusan bersama, maka kepala sekolah menugaskan pihak-pihak terkait yakni wali kelas, guru BK dan kesiswaan untuk menindaklanjuti dan memantau pelaksanaan solusi. Apabila solusi yang diambil efektif sebagai sebuah penyelesaian masalah, maka akan dijadikan panduan atau referensi untuk solusi bagi permasalahan yang sejenis.
Berdasarkan hasil Patin Berkelas, beberapa program iringan berjalan yakni pembatasan penggunaan HP di sekolah, razia rutin tiap bulan, kerjasama dengan orang tua untuk aktif mengawasi dan membersamai putra-putrinya. Kegiatan yang bermuatan positif dilaksanakan seperti pembiasaan sholat dhuha dan doa pagi bagi siswa non muslim, penyuluhan anti perundungan dan kekerasan, sholat berjamaah yang dilanjutkan dengan BTQ dan kajian muslimah. Upaya lain yang dilakukan adalah mengadakan “Barter” atau Buku Catatan Karakter Terpuji. Buku ini memotivasi siswa untuk berlomba-lomba dalam kebaikan sehingga tumbuh budaya disiplin positif di sekolah. Program berkebun Urban Farming Club yang diminati oleh siswa. Kegiatan ini pun merupakan salah satu cara untuk memberikan alternatif kegiatan positif bagi siswa dan memberikan ilmu praktis yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah bekerjasama dengan pihak keamanan untuk penyuluhan terkait perilaku menyimpang remaja maupun dalam pengamanan di lingkungan sekitar sekolah. Sekolah melibatkan peran orang tua dalam pendidikan anak yakni melalui program parenting Family United yang bertujuan untuk membangun pola komunikasi positif dan efektif, sehingga terjalin hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak. Program ini kerjasama dengan Universitas Indonesia, Dignity dan University of Colorado.
Implementasi Patin Berkelas mampu menurunkan kasus penyimpangan perilaku siswa. Data awal berjumlah 38 kasus. Pada bulan Juli 2024 hingga Februari 2025 terjadi penurunan menjadi 17 kasus. Kemudian, sejak bulan Maret hingga Mei 2025 tidak terjadi kasus penyimpangan perilaku. Data tersebut menunjukkan bahwa semakin baiknya pola komunikasi antara Kepala sekolah, guru BK, Kesiswaan, wali kelas dan humas terkait dengan permasalahan perilaku siswa. Patin Berkelas memungkinkan semua pihak yang terlibat duduk bersama untuk saling berdiskusi sehingga efektif dalam pengambilan keputusan untuk mendapatkan solusi terbaik.
Manfaat lain Patin berkelas adalah eratnya kolaborasi berbagai pihak baik. Program Patin Berkelas merupakan salah satu bentuk kegiatan komunitas belajar, menerapkan prinsip pembelajaran mendalam yakni berkesadaran, bermakna dan menggembirakan. Penerapan pengalaman belajar mulai dari memahami, mengaplikasikan dan merefleksikan terkait karakter siswa. Implementasi Patin Berkelas merupakan salah satu upaya kepala sekolah dalam menumbuhkan 8 Profil Lulusan diantaranya komunikasi, kolaborasi, penalaran kritis dan kreativitas guru. Harapannya guru mampu mengimplementasikan dalam perilakunya sebagai teladan bagi siswa sehingga sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa baik dalam pembelajaran maupun dalam pengembangan diri.