Rizka Dwie Suci Wulandari, S.Pd
Pembelajaran IPA sering kali dianggap sulit dan membosankan oleh sebagian peserta didik. Di kelas, saya sering menemukan peserta didik yang tampak jenuh, pasif, dan hanya mencatat tanpa benar-benar memahami konsep yang dipelajari. Hal ini sangat terasa ketika saya mengajarkan materi perubahan fisika dan kimia di kelas VII SMP Negeri 23 Depok. Banyak peserta didik yang mampu menghafal definisi, tetapi masih keliru ketika diminta mengklasifikasikan peristiwa sehari-hari. Ada yang menyebut air menguap sebagai perubahan kimia, dan ada pula yang menganggap kayu terbakar hanya sebagai perubahan fisika. Dari sini saya menyadari bahwa pemahaman mereka masih bersifat permukaan dan belum menyentuh pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan.
Sebagai guru, saya menghadapi tantangan besar. Saya ingin menumbuhkan rasa ingin tahu dan keterlibatan aktif peserta didik dalam pembelajaran IPA. Saya berharap mereka tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga benar-benar memahami, menyelami, dan mampu menjelaskan kembali dengan bahasa mereka sendiri. Saya juga ingin mereka lebih berani berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan bekerja sama dalam kelompok. Namun, kenyataannya tidak semua peserta didik merasa percaya diri. Ada yang pendiam, ada yang terlalu dominan, dan ada pula yang lebih nyaman bekerja sendiri. Kondisi ini membuat saya tertantang untuk merancang pembelajaran yang dapat mengakomodasi keragaman karakter mereka sekaligus membangkitkan antusiasme belajar.
Untuk menjawab tantangan itu, saya kemudian merancang pembelajaran dengan model Discovery Learning yang dipadukan dengan praktikum dan strategi kolaboratif Two Stay Two Stray. Saya memulai pembelajaran dengan pemantik berupa video peristiwa perubahan zat seperti terjadinya perkaratan pada besi. Saya tidak langsung menjelaskan, tapi justru mendorong mereka bertanya: “Apa yang terjadi?” “Kenapa bisa berubah?”. Kemudian saya mengajak peserta didik melakukan ice breaking berupa tebak-tebakan perubahan zat dengan bendera bertuliskan “Fisika” atau “Kimia”. Saya tampilkan gambar-gambar, dan mereka harus menjawab cepat dengan mengangkat bendera. Aktivitas sederhana ini ternyata berhasil membangkitkan semangat peserta didik di awal pembelajaran. Setelah itu, mereka saya bagi dalam kelompok untuk melakukan praktikum. Setiap kelompok melakukan dua percobaan yang berbeda-beda, satu yang menunjukkan perubahan fisika dan satu lagi perubahan kimia, dengan bahan-bahan yang mudah ditemui di sekitar. Mereka mencatat, berdiskusi, dan menarik kesimpulan. Saya hanya mendampingi dan memberikan pertanyaan pemandu. Saya tidak memberi jawaban, tapi mendorong mereka untuk menyimpulkan sendiri.
Setelah praktikum, saya meminta mereka melakukan diskusi menggunakan strategi Two Stay Two Stray. Dua orang peserta didik bertugas tinggal di kelompok untuk menjelaskan hasil percobaan, sementara yang lainnya berkunjung ke kelompok lain untuk mendengarkan penjelasan. Dengan cara ini, mereka belajar saling berbagi hasil, mendengarkan pendapat, dan memperluas pemahaman. Saya juga menambahkan demonstrasi tantangan berupa percobaan balon yang mengembang akibat reaksi antara soda kue dan cuka. Peserta didik sangat antusias melihat peristiwa ini karena terasa nyata dan mengesankan. Di akhir pembelajaran, saya mengajak mereka bermain kuis interaktif “blooket” untuk memperkuat pemahaman, dan suasana kelas pun semakin hidup. Sepanjang proses, saya berperan bukan sebagai penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator pembelajaran. Saya memberi ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi, berdiskusi, dan belajar dari pengalaman.
Di akhir pembelajaran, saya ajak mereka merenung: “Apa yang kalian pelajari hari ini?” Beberapa menjawab, “Ternyata perubahan zat itu ada di sekitar kita.” Ada yang bilang, “Saya jadi lebih berani ngomong.” Dan ada yang bangga karena bisa menjelaskan ke teman. Saya pun ikut merefleksikan. Ternyata, dengan pendekatan yang tepat, peserta didik bisa belajar lebih dalam. Mereka tidak hanya tahu apa itu perubahan fisika dan kimia, tapi juga mengapa dan bagaimana itu terjadi. Saya melihat mereka berpikir kritis saat membandingkan hasil eksperimen, berkomunikasi dengan lebih percaya diri, dan berkolaborasi dengan seimbang. Bagi saya, ini bukan sekadar keberhasilan menyampaikan materi. Ini adalah proses membentuk karakter. Membentuk peserta didik yang tangguh, aktif, dan punya keinginan untuk terus belajar.
Dari proses ini, saya melihat perubahan yang menggembirakan. Peserta didik yang awalnya pasif mulai berani bertanya dan berdiskusi. Mereka yang semula jenuh menjadi lebih antusias, bahkan tampak bersemangat untuk mencoba sendiri praktikum di rumah. Pemahaman konsep perubahan fisika dan kimia meningkat, ditunjukkan dengan kemampuan mereka menjelaskan perbedaan kedua jenis perubahan tersebut dengan contoh yang relevan. Rasa percaya diri mereka pun tumbuh, mereka lebih berani menyampaikan pendapat di depan teman-temannya. Selain itu, kerja kelompok menjadi lebih seimbang, tidak lagi didominasi oleh satu atau dua peserta didik saja.
Bagi saya, dampak terbesar dari praktik baik ini adalah tumbuhnya tiga dimensi profil lulusan dalam diri peserta didik, yaitu kolaborasi, penalaran kritis, dan komunikasi. Melalui pembelajaran ini, mereka belajar untuk bekerja sama, menganalisis hasil praktikum secara kritis, serta mengasah kemampuan menyampaikan pendapat dengan jelas.
Melalui praktik ini, saya semakin yakin bahwa tugas guru bukan hanya menyampaikan materi, melainkan juga memfasilitasi rasa ingin tahu, membuka ruang eksplorasi, dan membentuk karakter peserta didik. Dari kelas yang awalnya jenuh, kini tumbuh semangat belajar dan antusiasme yang nyata. Semoga praktik baik ini bisa menginspirasi rekan-rekan guru lain untuk terus menghadirkan pembelajaran yang joyful, meaningful, dan mindful.